GAMBAR BACGROUND EITHER GOOD OR EVIL SIFAT DASAR MANUSIA

Antara Baik & Buruk: Sifat dasar Manusia?

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya. la sangat unik dan menarik. Terkadang seseorang yang dikenal jahat tapi hanya beberapa faktor kecil, akhirnya di berubah menjadi dermawan, sehingga kita berpikir bahwa sifat dasarnya adalah baik, dan dia jahat mungkin karena ada faktor buruk yang terjadi padanya.

akan tetapi begitu juga sebaliknya, contohnya orang munafik. jadi apakah yang menjadi sifat dasar manusia, baik atau buruk?

sifat manusia baik dan sifat manusia buruk
Sumber: brittstepblog

Apa Yang Menjadi Sifat Dasar Manusia Baik atau Buruk?

secara mendasar, apakah manusia baik atau buruk? Ini pertanyaan yang berulang kali ditanyakan ke seluruh umat manusia. Selama ribuan tahun, para filsuf memperdebatkan apakah kita pada dasarnya memiliki sifat baik yang rusak oleh masyarakat, atau pada dasarnya sifat buruk yang dijaga oleh masyarakat. Psikologi telah mengungkap beberapa bukti yang mungkin membuat perdebatan lama itu berubah.

Kita selalu diajarkan bahwa semua manusia itu sama, dari sini muncul pertanyaan, kalau manusia itu sama, kenapa ada yang baik dan juga ada yang jahat?

Manusia mempertanyakan diri sendiri, apakah ia makhluk yang baik atau Jahat?

Sifat Dasar Manusia Dalam Filsafat

Ada dua (2) filosofi bertabrakan yang menjelaskan sifat dasar / watak sejati manusia, yaitu filosofi yang di kemukakan oleh Meng Zi dan Xun Zi.

Meng Zi – Sifat dasar Manusia baik

MENG ZI SIFAT DASAR MANUSIA ITU BAIK
Meng Zi

Meng Zi banyak mengajarkan tentang Watak Sejati (Xing) manusia yang memiliki sifat bajik dari Tian yakni berupa Cinta Kasih (Ren), Kebenaran (Yi), Li (Susila), Bijaksana (Ti) dan Dapat dipercaya (Xin). Setiap manusia telah dikaruniai dengan Wu Chang (Lima Kebajikan) tersebut, oleh karena itu menurut meng Zi (Mensius), Watak Sejati (Xing) manusia itu bersifat baik.

Contoh Filsafat Meng Zi:

Apabila ada seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa secara tiba-tiba hendak terjerumus ke dalam sumur, maka setiap orang yang melihatnya pasti akan segera tergerak hatinya untuk menolong dan menyelamatkannya tanpa menghiraukan siapa anak kecil itu.

Hal inilah yang dimaksudkan oleh Meng Zi bahwa pada dasarnya manusia memiliki perasaan atau hati nurani yang sama, tetapi karena pengaruh lingkungan maka Watak Sejati (Xing) yang bersifat bajik tadi bisa dirusak oleh keadaan lingkungan di sekitarnya.

Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap insan untuk selalu memelihara dan merawat Watak Sejatinya agar selalu memancarkan sifat-sifat baik.

Xun Zi – Sifat dasar Manusia buruk

XUN ZI SIFAT DASAR MANUSIA ITU JAHAT
Xun Zi

Apabila sekelompok manusia telah memiliki sifat kebajikan dan keadilan, mereka dapat bekerja sama dan hidup rukun. Apabila sifat kebajikan dan keadilan ini belum dimiliki oleh masyarakat, maka tidak ada kerukunan dan kedamaian dalam masyarakat itu.

Xun Zi menggambarkan jiwa manusia sebagai berikut,

  • Manusia mempunyai naluri untuk mempertahankan hidup
  • Mempunyai naluri untuk memiliki keturunan
  • Mempunyai naluri memiliki benda
  • Mempunyai naluri menyayangi dan disayangi
  • Mempunyai naluri untuk melindungi keluarganya

Apabila manusia terpenuhi nalurinya dia akan gembira. Apabila nalurinya tidak terpenuhi dia sedih atau kecewa. Kecewa, sedih, gembira, dan marah itu termasuk “emosi”.

Uraian filsafat Xun Zi

Pada manusia umumnya, yang berperan besar dalam kehidupannya adalah naluri dan emosi, pikirannya mengabdi pada kepentingan naluri. Xun Zi mengatakan bahwa watak sejati manusia itu buruk. Watak sejati yang dimaksud Xun Zi adalah naluri dan nafsu yang tidak terkendali. Untuk memperbaiki watak yang buruk itu, manusia harus dididik dan dilatih menggunakan otaknya mengendalikan nafsu.


Dilema Antara Baik dan Buruk

Setelah membaca itu, akhirnya pertanyaan tentang sifat dasar manusia terjawab, tapi memunculkan pertanyaan baru, yaitu manakah filsafat yang benar, yang dikemukakan Meng Zi atau Xun Zi?

Sama seperti Filsuf lainnya Meng Zi dan Xun Zi ketika mengutarakan filsafatnya, itu akan sulit untuk dibantah, tapi masalahnya pendapat keduanya bertolak belakang

terlepas dari itu, kedua filsuf ini memang tidak diragukan lagi kejeniusannya.

Menganalisis dari sudut pandang yang berbeda

DIlansir dari tulisan Ir. Hugua dalam bukunya “Surgaisme” Manusia memiliki karakter, potensi, orientasi, dan kecenderungan untuk melakukan hal-hal positif dan hal-hal negatif. Inilah salah satu ciri unik manusia yang membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya.

HUGUA SIFAT DASAR MANUSIA ITU RELATIF
Ir. Hugua

Oleh Karena itu, manusia disebut makhluk alternatif, artinya ia bisa menjadi baik dan tinggi derajatnya di hadapan Tuhan. Sebaliknya, ia pun bisa menjadi jahat dan ia jatuh terperosok pada posisi yang rendah dan buruk bagai hewan, bahkan lebih jelek lagi.

2 dimensi jiwa yang selalu bersaing

Dalam kehidupan sehari-hari, antara dua dimensi jiwa ini bersaing, berperang, dan saling memengaruhi. Kadang jiwa positif manusia yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran menguasai dirinya, kadang jiwa negatif atau nafsu yang mendominasi.

Manusia tentu saja berharap agar jiwa positifnya bisa menguasai dan membimbing dirinya. Dengan begitu, ia bisa berjalan pada garis kebaikan dan kebenaran. ini sering kali tak kunjung tercapai, bahkan yang terjadi kadang justru kondisi sebaliknya. namun, harapan la terperosok ke “kubang kebatilan”.

Hal yang mempengaruhi perubahan sifat manusia

Manusia dikaruniai oleh Tuhan kekuatan ikhtiar atau usaha untuk bebas menggunakan potensi positif dan negatifnya. Namun, ia tak boleh lupa bahwa semua pilihan dan tindakannya memiliki konsekuensi masing-masing.

Di sinilah betapa besar peranan lingkungan yang mengelilingi diri manusia, baik keluarga, kawan, tetangga, guru, kerabat kerja, bacaan, penglihatan, pendengaran, makanan, minuman, dan lainnya. Semua itu memberikan andil dan pengaruh dalam mewarnai jiwa manusia.

Kesalahan Manusia Dalam Mengartikan “Takdir”

Manusia tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan dan kambing hitam bila ia melakukan perbuatan negatif. dan ia juga tidak boleh berkata bahwa “usaha yang selama ini ia jalani itu percuma, karena segala sesuatunya telah ditakdirkan Tuhan”. Seakan manusia itu wayang yang tak biasa berperan kecuali diperankan sang dalang.

Bukankah Allah telah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Jadi Tuhan tidak akan mengubah keadaan kita kalau kita sendiri tidak berusaha mengubah diri kita.

Menjadi “baik” atau “buruk” adalah pilihan

Menjadi baik dan selalu menjalani kebenaran adalah sebuah proses pergulatan diri yang panjang antara dimensi positif dan negatif. Jika diri manusia dikuasai nurani atau jiwa positif maka ia pasti selalu bergerak pada kebaikan dan kebenaran. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, menjadi baik atau buruk adalah pilihan.

Lebih bijak dalam memilih

Jiwa yang diselimuti dimensi positif pasti membawa manusia pada sikap rendah hati dan selalu terbuka terhadap sesuatu yang baru. Pribadinya terbuka dan menghargai perbedaan orang lain. la tidak menutup diri dan merasa paling benar sendiri. la bisa menerima perbedaan agama, suku, budaya, dan lainnya.

Bila jiwa lebih dikuasai dimensi negatif ia cenderung fanatik, merasa benar sendiri dan mengang gap pendapat orang lain salah. Mereka meyakini kebenaran hanyalah kepercayaan formal yang mereka anut sendiri. Padahal, kebenaran bukan saja terletak ada kepercayaan formal atau label-label keormasan atau kepercayaan tertentu. lingkungannya.

BAYI SIFAT DASAR MANUSIA ITU RELATIF
Sifat Dasar Manusia

Kesimpulan

Tidak ada satu orang pun yang bersifat jahat jika tidak ada hal buruk yang mempengaruhinya, begitu juga sebaliknya tidak ada yang bersifat baik jika tidak ada hal baik yang mempengaruhinya.

entah itu dari sebuah peristiwa, bahkan doktrin seperti dari orang tua, teman sekolah, para pemuka agama dll.

Maksudnya, Semua Manusia terlahir sama, dan juga terlahir suci, seperti kertas kosong dimana belum ada hal yang baik atau buruk, tergantung kita

Lihat Pula

Referensi

  • The original clan name was Mengsun (孟孫), and was shortened into Meng (孟). It is unknown whether this occurred before or after Mencius’s death.
  • ENCYCLOPÆDIA BRITANNICA. Xunzi. https://www.britannica.com/biography/Xunzi
  • Hugua danKomarudin. 2012. Surgaisme: Landasan Tata Dunia Baru. Laut Biru
  • Hannon, Elizabeth; Lewens, Tim, eds. (2018-07-19). Why We Disagree About Human NatureOxford Scholarship Online. 1. doi:10.1093/oso/9780198823650.001.0001ISBN9780198823650.
  • Blank, Robert H. (2002). “Review of Jean-Pierre Changeux and Paul Ricoeur. 2000. What Makes Us Think? A Neuroscientist and Philosopher Argue about Ethics, Human Nature, and the Brain”. The American Journal of Bioethics: AJOB. 2 (4): 69–70. 

0

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.