sejarah Aksara - Asal muasal tulisan tangan

Sejarah Tulisan dari pertama ditemukan

Dalam sejarah tulisan pertama kali ditemukan di Irak bagian selatan tepatnya di Mesopotamia, antara sungai Tigris dan sungai Efrat.

Tempat ini dalam pengertian yang lebih luas, berada di daerah sekitar kedua sungai itu, termasuk sebagian besar dari Turki dan Suriah.

Mesopotamia menciptakan sebagian peradaban sangat tua di dunia, Salah satu yang paling terkenal yakni peradaban Sumeria, yang berjaya dari kurang lebih tahun 4500 SM– 1750 SM. Kota- kota pertama dalam sejarah dunia muncul di Sumeria.

Berikut merupakan sejarah perkembangan tulisan dari awal kali ditemui:

Perkembangan Tulisan
Sumber: Wikimedia Commons

1. Tulisan Akkdia

Akkadian merupakan bahasa semitik yang digunakan di Mesopotamia( Irak modern serta Suriah) antara dekat 2. 800 SM serta 500 Masehi. Itu dinamai kota Akkad serta kesatu kali timbul dalam teks- teks Sumeria yang berasal dari 2. 800 SM dalam bentuk nama Akkadian.

Aksara runcing akkadia diadaptasi dari rune Sumeria kurang lebih 2. 350 SM. Pada dikala yang sama, banyak kata- kata Sumeria yang dipinjam ke Akkadian, serta logog Sumeria diberikan teks Sumeria serta Akkadian. Dalam banyak perihal proses mengadaptasi aksara Sumeria dengan bahasa Akkadia menyamai metode aksara Tiongkok diadaptasi buat menulis bahasa Jepang. Akkadia, seperti Jepang, merupakan polisilabik serta memakai bermacam infleksi sedangkan Sumeria, seperti Tiongkok, mempunyai sedikit infleksi.

Beberapa besar bacaan serta fragmen bacaan Akkadia yang berjumlah ratusan ribu sudah digali. Mereka tercantum mitologi, bacaan hukum serta ilmiah, korespondensi dan sebagainya. Sepanjang milenium ke- 2 SM bahasa Akkadia tumbuh jadi 2 varian, Asyur dan Babel, di Asyur serta Babel.

Perkembangan dari grafem yang lebih realistis sampai ke grafem yang abstrak

Tulisan bahasa Sumeria. Dari grafem gambar menjadi grafem abstrak.
Tulisan bahasa Sumeria. Dari grafem gambar menjadi grafem abstrak.

Antara kolom 1 dan kolom 2 ada suatu perubahan yang drastis: semua grafem diputar 90 derajat. Grafem 1, berbentuk kepala manusia, sebelumnya tegak; kemudian diputar menjadi telentang. Ada teori bahwa putaran ini berkaitan dengan perubahan alat tulis yang dipakai. Belum jelas kapan putaran ini terjadi.Juga belum jelas kapan satu perubahan lain terjadi dalam penulisan bahasa Sumeria, saat para penulis mengganti alat tulis.

Daripada menggunakan buluh yang diruncingkan, mereka kemudian menggunakan buluh yang rata ujungnya. Bila ditekan ke tanah liat, buluh itu menghasilkan satu bentuk yang mirip dengan paku. Nama dalam bahasa latin untuk paku adalah cuneus, dan makanya tulisan ini sekarang disebut cuneiform (“berbentuk cuneus”, c berbunyi k) dalam bahasa Inggris, atau aksara paku dalam bahasa Indonesia.

Aksara paku (cuneiform).
Aksara paku (cuneiform).

Tulisan Sumeria sulit untuk dipahami karena bermakna ganda

Pada kurang lebih tahun 3600 SM telah ada kira-kira 1500 grafem dalam tulisan bahasa Sumeria. Mayoritas merupakan logogram( grafem logografis). Waktu itu, satu logogram dapat mencirikan sebagian kata berbeda. Misalnya, pada foto diatas, logogram 2 dapat dibaca/ ka/“ mulut”,/ dug/“ berdialog”,/ zu/“ gigi”, serta/ inim/“ pembicaraan”. Jadi satu logogram memiliki arti yang ambigu( tidak jelas)– dapat berarti ini, dapat berarti itu.

Penulis Sumeria mulai menggunakan grafem Silabis sebagai tambahan

Untuk mengurangi ambiguitas tersebut, dari kurang lebih tahun 3600 SM, penulis Sumeria mulai memakai grafem silabis sebagai tambahan. Dasar sistem tulisannya senantiasa logografis, namun grafem silabis, mulai timbul juga. Kebetulan, dalam bahasa Sumeria itu, mayoritas kata dasar terdiri dari satu silabel saja, serta ada banyak sekali homonim ialah 2 kata, 3 kata, ataupun lebih, dengan bunyi sama namun makna berbeda.

( Homonim nyaris tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia, namun kerap ada dalam sebagian bahasa lain, tercantum bahasa Inggris: hair[rambut] and hare[kelinci], duaduanya dibunyikan/ hεr/, dengan/ε/ seperti dalam zed; eye[mata] serta I[saya], duaduanya dibunyikan/ ai/.).

Prinsip tulisan bukan logografis (berdasarkan makna), melainkan fonografis (berdasarkan bunyi).

Daripada memakai sistem logografis, yang menuntut 2 grafem buat 2 kata yang berbeda makna sekalipun bunyinya sama, penulis Sumeria mulai memakai salah satu grafem buat dua-duanya, malah sebab bunyinya sama. Misalnya, jika terdapat silabel/ ho/ yang berarti X serta pula Y, grafem buat X dapat dipakai pula untuk menulis kata Y. Serta tiap kali terdapat silabel/ ho/ muncul dalam kata lain, walaupun bukan merupakan kata lengkap, grafem untuk X dapat dipakai. Jadi, dalam perihal ini, prinsip tulisan bukan logografis( bersumber pada arti), melainkan fonografis( bersumber pada bunyi).

Pada dasarnya tulisan orang Sumeria logografis. Mereka mengguna­kan prinsip fonografis serta silabis cuma dalam konteks terbatas untuk menulis nama nama asing, misalnya. Yang lebih jauh meningkatkan prinsip silabis merupakan orang Akadia, yang mendiami wilayah yang saat ini tercantum Irak serta Syria. Mereka meminjam sistem tulisan Sumeria ke dalam bahasa Akadia kurang lebih tahun 2500 SM. Mayoritas contoh tulisan aksara paku yang tersimpan hingga saat ini berasal dari orang Akadia( serta orang Babel ataupun Babilonia, suatu subetnis orang Akadia), bukan dari orang Sumeria.

2. Tulisan Mesir

Prasasti paling tua dalam bahasa Mesir berasal dari sekitar tahun 3400 SM. Walaupun ada beberapa jenis tulisan Mesir Kuno, yang paling terkenal adalah tulisan hieroglif—sejenis tulisan yang sangat indah dan mengesankan, penuh dengan gambar jelas. Tulisan hieroglif dipakai untuk monumen—dinding istana dan kuil, patung dewa dan raja, serta makam raja.

Hieroglif Mesir kuno.
Hieroglif Mesir kuno.

Penulis Mesir menciptakan prinsip alfabetis

Penulis Mesir mengambil prinsip logografis( satu grafem untuk satu kata) serta prinsip silabis dari aksara paku, kemudian untuk pertama kali dalam sejarah dunia mereka menghasilkan prinsip alfabetis, dengan grafem yang menandai konsonan sendiri( tanpa vokal) atau 2 ataupun 3 konsonan sekalian. Pada biasanya tulisannya dari kanan ke kiri, namun dapat pula Pada biasanya tulisannya dari kanan ke kiri, namun dapat pula dari kiri ke kanan ataupun dari atas ke dasar.

Hieroglif Mesir kuno.
Hieroglif Mesir kuno.

Beginilah alfabet dalam tulisan bahasa Mesir Kuno. Dalam bahasa itu, kata untuk“ kaki” mulai dengan bunyi/ b/. Serta dalam tulisannya, kata untuk“ kaki” itu ditulis secara logografis dengan gambar kaki. Inovasi penulis Mesir merupakan: mereka ambil grafem untuk“ kaki” itu serta memakainya bukan cuma untuk kata“ kaki” namun untuk seluruh bunyi/ b/. Serta demikian seterusnya untuk bunyi­-bunyi lain, sehingga kesimpulannya terdapat satu alfabet untuk mencirikan 26 konsonan.

Sebenarnya alfabet ini digunakan cuma dalam sebagian konteks tertentu, serta tidak mengambil alih sistem logografis serta silabis. Misalnya, jika sesuatu grafem dapat dibaca dengan sebagian makna( ingatlah contoh dari Sumeria: satu logogram dapat dibaca sebagai mulut, gigi, berdialog, serta pembicaraan), satu grafem alfabetis dapat ditambahkan buat menolong sang pembaca. Jika yang ditambahkan merupakan grafem untuk konsonan/ k/, berarti kata yang diisyarati oleh logogram merupakan yang mulai( ataupun kadang­-kadang berakhir) dengan/ k/, bukan yang mulai( ataupun berakhir) dengan konsonan lain.

Metode lain untuk membantu sang pembaca yakni dengan grafem yang diucap“ penentu”( Inggris: determinative).( Penentu ini pula dipakai dalam tulisan bahasa Sumeria/ Akadia.) Misalnya terdapat satu kata yang dapat dibaca sebagai ikan serta pula sebagai tangis. Kata itu ditulis, kemudian ditambahkan grafem yang menggambarkan ikan, bila yang dimaksudkan merupakan ikan, ataupun ditambahkan grafem yang menggambarkan mata, bila yang dimaksudkan adalah tangis.

Grafem penentu ini tidak dibunyikan sang pembaca. Sebagaimana halnya dengan tulisan silabis yang diciptakan orang Sumeria namun lebih dibesarkan oleh orang lain( orang Akadia) tulisan alfabetis diciptakan orang Mesir namun lebih dikembangkan oleh orang lain yang dijajah Mesir. Pertumbuhan pesat atas dasar alfabetis dari Mesir terjalin dalam sebagian sistem tulisan yang diucap rumpun tulisan Semitik Utara.

3. Tulisan Semitik Utara

Tulisan Semitik Timur adalah aksara paku (dipakai untuk bahasa Sumeria, Akadia, Babilonia, dan Assyria). Tulisan Semitik Utara tidak menggunakan aksara paku melainkan mengandalkan alfabet konsonan yang diciptakan orang Mesir. Berbeda dengan tulisan bahasa Mesir, tulisan Semitik Utara tidak mencampurkan tulisan alfabetis dengan tulisan logografis: sistemnya fonografis (berdasarkan bunyi) belaka.

Suatu grafem menandai bunyi saja, tanpa menandai makna sama sekali. Makna suatu kata hanya diketahui kalau semua tanda bunyi digabungkan. Kami ambil contoh dari bahasa Indonesia: dalam istilah kelas, arti kata itu tidak tergantung pada hurufhurufnya tetapi pada susunannya. Artinya baru muncul kalau huruf­huruf itu diletakkan dalam susunan itu. Kalau susunannya berbeda—lekas atau selak—artinya juga lain.

Alfabet Semitik Utara terdiri dari konsonan saja, dan tidak mempunyai cara menandai bunyi vokal.

jadi jika judul itu kalau ditulis dengan konsonan saja, kelihatan begini: Lfbt Smtk Tr trdr dr knsnn sj, dn tdk mmpny cr mnnd bny vkl.

Sistem ini barangkali tepat untuk bahasa­bahasa Semitik, termasuk bahasa Arab, karena dasar atau akar (bahasa Inggris: root) dari setiap kata adalah konsonannya. Kebanyakan kata dalam bahasa Arab mempunyai dasar/akar yang terdiri dari tiga konsonan. Misalnya, k‑t‑b adalah dasar dari sekelompok kata yang berhubungan dengan tulisan:

kitab :buku

katab :menulis

aktib :­saya menulis

katib :penulis

maktub :­tertulis

maktab :kantor

Perbedaan di antara bentuk ­bentuk dasar ktb ini terletak pada bunyi vokalnya. Seseorang yang tahu makna bahasanya biasanya dapat mengetahui melalui konteks (apa yang menjadi topik tulisannya) bentuk mana yang harus dilafalkan. Semua tulisan dalam rumpun Semitik Utara—termasuk tulisan bahasa Aramaik, Phoenicia, Nabthi (Nabataean), dan Arab—ditulis dengan garis mendatar dari kanan ke kiri.

Alfabet Semitik Utara yang paling awal muncul dalam kurun waktu tahun 1700 SM – 1500 SM. Dua tulisan yang paling berpengaruh dalam rumpun tulisan Semitik Utara adalah tulisan bahasa Aramaik dan tulisan bahasa Phoenicia.

Alfabet Aramaik
Alfabet Aramaik
Alfabet Phoenicia.
Alfabet Phoenicia.

4. Bahasa Aramaik

Sebenarnya, tulisan bahasa Aramaik dan tulisan bahasa Phoenicia sangat dekat, dan tulisan Aramaik bisa dianggap turunan dari tulisan Phoenicia. Tetapi dari segi wilayah pengaruh dan perkembangannya, kedua tulisan cukup berbeda.

Tulisan Aramaik muncul pertama kali pada abad ke­9 SM. Antara abad ke­9 SM dan ke­6 SM, bahasa Aramaik (bersama tulisannya) menjadi bahasa administrasi untuk kekaisaran Assyria/Persia, dan dikenal dari Mesir sampai ke India.

Dari tulisan bahasa Nabthi ke tulisan bahasa Arab.
Dari tulisan bahasa Nabthi ke tulisan bahasa Arab.

Perkembangan sejarah aksara Dari tulisan bahasa Nabthi ke tulisan bahasa Arab.

Sekitar tahun 150 SM, beberapa suku Arab nomadis di daerah Sinai, Arabia utara, dan Yordania timur bersatu dan mendirikan suatu kerajaan yang berpusat di Petra. Kerajaan ini disebut Nabthi (Nabataea). Walaupun bahasa sehari­-hari mereka adalah bahasa Arab, mereka juga menggunakan bahasa Aramaik menulis dengan tulisan Aramaik antara abad ke­1 SM – abad ke­3.

Mereka memasukkan beberapa variasi ke dalam tulisan Aramaik, terutama gabungan huruf (seperti lam­alif dalam tulisan bahasa Arab). Dan juga Dan juga bentuk­bentuk huruf khusus kalau hurufnya mengakhiri suatu kata.

Ciri­-ciri tulisan Nabthi ini menjadi unsur khas dalam tulisan bahasa Arab, dan tulisan bahasa Arab dianggap turunan langsung dari tulisan Nabthi. Transformasi tulisan Nabthi menjadi tulisan bahasa Arab terjadi pada abad ke­4 dan abad ke­5.

Alfabet bahasa Arab.
Alfabet bahasa Arab.

Alfabet bahasa Arab menggunakan 28 konsonan—dibanding 22 dalam alfabet Nabthi—tetapi tiga di antaranya (‘alif, wau, dan ya) berfungsi pula sebagai vokal “panjang” (/a/, /u/, /i/). Kebanyakan huruf mempunyai tiga bentuk tertulis, tergantung pada posisi dalam kata: pada awal, tengah, akhir kata.

Semua huruf juga mempunyai bentuk khusus kalau berdiri sendiri. Juga ada tanda­tanda (“diakritik”) di atas atau di bawah huruf untuk menandai bunyi vokal “pendek”, atau untuk menandai penggabungan konsonan (misalnya dalam kata maktub).

Tetapi diakritik ini biasanya dipakai secara sistematis hanya untuk menulis Al­Qur’an dan puisi Arab. Dalam konteks lain, bahasa Arab biasanya ditulis “gundul,” tanpa diakritik untuk vokal pendek atau penggabungan konsonan. Hal ini menyulitkan orang yang ingin membunyikan tulisannya jika belum memahami bahasanya.

Dari Tulisan Bahasa Phoenicia ke Tulisan Bahasa Yunani dan Bahasa Latin

Phoenicia dulu adalah satu daerah di pantai Timur laut Mediterania. Tulisan bahasa Phoenicia muncul kira­kira tahun 1000 SM. Sebagaimana tulisan Aramaik, tulisan Phoenicia termasuk rumpun tulisan Semitik Utara, menggunakan alfabet konsonan dengan 22 huruf. Bahasa Phoenicia ditulis dari kanan ke kiri, seperti bahasa Semitik Utara lain, dan bahasa Arab sekarang.

Alfabet Phoenicia dipinjam orang Yunani

Sekitar tahun 800 SM, alfabet Phoenicia dipinjam orang Yunani lalu dikembangkan. lima huruf konsonan dari alfabet Phoenicia yang tidak diperlukan untuk bahasa Yunani diberi bunyi baru, yaitu bunyi vokal. Dan alfabet Yunani itu menjadi alfabet pertama yang menganggap konsonan dan vokal sebagai huruf setara, tidak menganggap konsonan sebagai yang utama dan vokal sebagai tambahan (diakritik).

Huruf Yunani pada abad ke-7, arah menulis berganti-ganti arah (kanan ke kiri dan kiri ke kanan).
Huruf Yunani pada abad ke-7, arah menulis berganti-ganti arah (kanan ke kiri dan kiri ke kanan).

Pada mulanya, bahasa Yunani ditulis dari kanan ke kiri, seperti bahasa Phoenicia. Sekitar abad ke­7 SM, arah menulis bahasa Yunani bergantiganti arah, dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Namun sekitar abad ke­5 SM, tulisan bahasa Yunani ditulis dari kiri ke kanan. Beberapa huruf yang bentuknya non­simetris (B, E, K, P, dan sebagainya) sebelumnya menghadap ke kiri, lalu sesudah pergantian, arahnya menghadap ke kanan.

Perkembangan bentuk huruf dari tulisan Phoenicia hingga tulisan Yunani yang terlihat dalam gambar dibawah ini. dan gambar berikutnya memperlihatkan bahwa beberapa dari huruf dalam alfabet Phoenicia merupakan transformasi dari grafem Mesir kuno.

Dari huruf Phoenicia ke huruf Yunani
Dari huruf Phoenicia ke huruf Yunani
Dari tulisan bahasa Mesir kuno ke huruf Phoenicia dan kemudian ke huruf Yunani dan Latin.
Dari tulisan bahasa Mesir kuno ke huruf Phoenicia dan kemudian ke huruf Yunani dan Latin.

Alfabet Yunani tetap dipakai hingga saat ini untuk bahasa Yunani. Tetapi pula terdapat perkembangan lagi. Pendatang dari wilayah Euboea di Yunani yang menetap di wilayah Etruria di Itali bawa dan alfabet Yunani. Orang Etruria mengadopsi alfabet Yunani, masih dengan orientasi lama dari kanan ke kiri.

Tulisan dalam bahasa orang Etruria( bahasanya diucap Etruska ataupun Etruscan) timbul dalam abad ke­7 SM( tahun 700 SM– 600 SM). Setelah itu, kurang lebih tahun 650 SM, orang Roma meminjam sistem tulisan Etruria untuk menulis bahasa latin.

Tulisan bahasa latin berganti arah kanan – ­kiri menjadi kiri – kanan

Sejak saat itu berkembang alfabet latin yang sekarang digunakan untuk banyak bahasa, bukan hanya di Eropa tetapi juga di negara­negara di Asia, Afrika, dan Amerika Utara serta Selatan. Sebagaimana dengan bahasa Yunani sebelumnya, tulisan bahasa latin berganti arah kanan – ­kiri menjadi kiri – kanan, sekitar tahun 100 SM. lihat pada gambar dibawah ini transformasi bentuk dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf latin.

Dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf Latin.
Dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf Latin.

Kesimpulan Sejarah Tulisan

Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.

Pengertian Aksara

Aksara dalam KBBI

  • sistem tanda grafis yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran
  • jenis sistem tanda grafis tertentu, misalnya aksara Pallawa, aksara Ink
  • Huruf

Pengertian aksara menurut para ahli

aksara adalah sistem penulisan atau aksara sebagai fasilitas untuk merekam bahasa itu dalam media selain lisan sangatlah penting untuk dilakukan hal ini guna merevitalisasi aksara daerah sehingga generasi mendatang tetap dapat mengenal warisan budaya dari daerahnya. – (Turmudi, 2013)

Penemu tulisan pertama kali

Tidak diketahui siapa penemu aksara (tulisan). yang jelas dalam sejarah adalah Mesopotamia lah yang menemukan aksara, dan itupun masih juga menjadi perdebatan karena aksara dari Mesopotamia tidak ada hubungannya dengan sejarah penciptaan aksara Tionghoa

Mengapa aksara dibeberapa wilayah berbeda-beda?

dan dari sejarah aksara diatas, kita bisa tahu bahwa, kenapa tulisan/aksara dibeberapa wilayah berbeda-beda?… yaitu karena, aksara pertama kali dibuat masih berupa gambar gambar yang sulit dimengerti, dan walaupun aksara tersebut sulit dimengerti, tetapi aksara tersebut tetap desebar luaskan, yang menyebabkan wilayah wilayah yang merasa aksara tersebut sulit dimengerti dan mempunyai ide baru tentang menciptakan aksara mereka pasti merubahnya, begitupula di tempat asalnya aksara pasti di evolusi.

yaitu karena, aksara pertama kali dibuat masih berupa gambar gambar yang sulit dimengerti, dan walaupun aksara tersebut sulit dimengerti, tetapi aksara tersebut tetap desebar luaskan, yang menyebabkan wilayah wilayah yang merasa aksara tersebut sulit dimengerti dan mempunyai ide baru tentang menciptakan aksara mereka pasti merubahnya, begitupula di tempat asalnya aksara pasti di evolusi.

contohnya macam macam aksara di nusantara (indonesia) ada banyak aksara yaitu aksara jawa, aksara sunda, aksara kalimantan, aksara bali,

dan bukan hanya itu tulisan juga sering di modifikasi contohnya tulisan tegak bersambung


Lihat Pula

Referensi

0

2 komentar untuk “Sejarah Tulisan dari pertama ditemukan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.