Sejarah aksara – tulisan pertama kali ditemukan di Mesopotamia, Irak bagian selatan, antara sungai Tigris dan sungai Efrat (atau, dengan pengertian yang lebih luas, di daerah sekitar kedua sungai itu, termasuk sebagian besar dari Turki dan Suriah).

Mesopotamia menciptakan beberapa peradaban paling tua di dunia. Salah satu yang disukai adalah peradaban Sumeria, yang berjaya dari kurang lebih tahun 4500 SM – 1750 SM. Kota-kota pertama dalam sejarah dunia muncul di Sumeria.

SEJARAH AKSARA

Aksara Paku – Tulisan Bahasa Sumeria dan Akadia

Pada awalnya, orang Sumeria menulis di atas tanah liat yang masih empuk, dengan buluh (sejenis batang ilalang) yang diruncingkan. Aksara mereka lahir dari kebutuhan dalam perdagangan: kala itu, para saudagar ingin jumlah lebih dari satu komoditi (berapa ekor domba, misalnya) telah dijual atau masih dijual. Pada awal, grafemnya berupa gambar (pictogram), tetapi lamakelamaan menjadi lebih abstrak, dan grafemnya tidak lagi terbatas pada komoditi saja.

Perkembangan dari grafem yang lebih realistis sampai ke grafem yang abstrak

Tulisan bahasa Sumeria. Dari grafem gambar menjadi grafem abstrak.
Tulisan bahasa Sumeria. Dari grafem gambar menjadi grafem abstrak.

Antara kolom 1 dan kolom 2 ada suatu perubahan yang drastis: semua grafem diputar 90 derajat. Grafem 1, berbentuk kepala manusia, sebelumnya tegak; kemudian diputar menjadi telentang. Ada teori bahwaAda teori bahwa putaran ini berkaitan dengan perubahan alat tulis yang dipakai. Belum jelas kapan putaran ini terjadi.Juga belum jelas kapan satu perubahan lain terjadi dalam penulisan bahasa Sumeria, saat para penulis mengganti alat tulis.

Daripada menggunakan buluh yang diruncingkan, mereka kemudian menggunakan buluh yang rata ujungnya. Bila ditekan ke tanah liat, buluh itu menghasilkan satu bentuk yang mirip dengan paku. Nama dalam bahasa latin untuk paku adalah cuneus, dan makanya tulisan ini sekarang disebut cuneiform (“berbentuk cuneus”, c berbunyi k) dalam bahasa Inggris, atau aksara paku dalam bahasa Indonesia.

Aksara paku (cuneiform).
Aksara paku (cuneiform).

Tulisan Sumeria sulit untuk dipahami karena bermakna ganda

Pada kurang lebih tahun 3600 SM sudah ada kirakira 1500 grafem dalam tulisan bahasa Sumeria. Kebanyakan adalah logogram (grafem logografis). Waktu itu, satu logogram bisa menandai beberapa kata berbeda. Misalnya, pada gambar diatas, logogram 2 bisa dibaca /ka/ “mulut”, /dug/ “berbicara”, /zu/ “gigi”, dan /inim/ “pembicaraan”. Jadi satu logogram mempunyai makna yang ambigu (tidak jelas) – bisa berarti ini, bisa berarti itu.

Penulis Sumeria mulai menggunakan grafem Silabis sebagai tambahan

Untuk mengurangi ambiguitas tersebut, dari kurang lebih tahun 3600 SM, penulis Sumeria mulai menggunakan grafem silabis sebagai tambahan. Dasar sistem tulisannya tetap logografis, tetapi grafem silabis, mulai muncul juga. Kebetulan, dalam bahasa Sumeria itu, kebanyakan kata dasar terdiri dari satu silabel saja, dan terdapat banyak sekali homonim yaitu dua kata, tiga kata, atau lebih, dengan bunyi sama tetapi arti berbeda.

(Homonim hampir tidak dijumpai dalam bahasa Indonesia, tetapi sering terdapat dalam beberapa bahasa lain, termasuk bahasa Inggris: hair [rambut] and hare [kelinci], duaduanya dibunyikan /hεr/,dengan /ε/ seperti dalam zed; eye [mata] dan I [saya], duaduanya dibunyikan /ai/.).

Prinsip tulisan bukan logografis (berdasarkan makna), melainkan fonografis (berdasarkan bunyi).

Daripada menggunakan sistem logografis, yang menuntut dua grafem untuk dua kata yang berbeda arti sekalipun bunyinya sama, penulis Sumeria mulai menggunakan salah satu grafem untuk duaduanya, justru karena bunyinya sama. Misalnya, kalau ada silabel /ho/ yang berarti X dan juga Y, grafem untuk X bisa dipakai juga untuk menulis kata Y. Dan setiap kali ada silabel /ho/ muncul dalam kata lain, walau bukan merupakan kata lengkap, grafem untuk X bisa dipakai. Jadi, dalam hal ini, prinsip tulisan bukan logografis (berdasarkan makna), melainkan fonografis (berdasarkan bunyi).

Pada dasarnya tulisan orang Sumeria logografis. Mereka mengguna­kan prinsip fonografis dan silabis hanya dalam konteks terbatas untuk menulis nama nama asing, misalnya. Yang lebih jauh mengembangkan prinsip silabis adalah orang Akadia, yang mendiami daerah yang sekarang termasuk Irak dan Syria. Mereka meminjam sistem tulisan Sumeria ke dalam bahasa Akadia kurang lebih tahun 2500 SM. Kebanyakan contoh tulisan aksara paku yang tersimpan sampai sekarang berasal dari orang Akadia (dan orang Babel atau Babilonia, sebuah subetnis orang Akadia), bukan dari orang Sumeria.

Hieroglif – Tulisan bahasa mesir

Prasasti paling tua dalam bahasa Mesir berasal dari sekitar tahun 3400 SM. Walaupun ada beberapa jenis tulisan Mesir Kuno, yang paling terkenal adalah tulisan hieroglif—sejenis tulisan yang sangat indah dan mengesankan, penuh dengan gambar jelas. Tulisan hieroglif dipakai untuk monumen—dinding istana dan kuil, patung dewa dan raja, serta makam raja.

Hieroglif Mesir kuno.
Hieroglif Mesir kuno.

Penulis Mesir menciptakan prinsip alfabetis

Penulis Mesir mengambil prinsip logografis (satu grafem untuk satu kata) dan prinsip silabis dari aksara paku, lalu untuk pertama kali dalam sejarah dunia mereka menciptakan prinsip alfabetis, dengan grafem yang menandai konsonan sendiri (tanpa vokal) atau dua atau tiga konsonan sekaligus. Pada umumnya tulisannya dari kanan ke kiri, tetapi bisa juga Pada umumnya tulisannya dari kanan ke kiri, tetapi bisa juga dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.

Hieroglif Mesir kuno.
Hieroglif Mesir kuno.

Beginilah alfabet dalam tulisan bahasa Mesir Kuno. Dalam bahasa itu, kata untuk “kaki” mulai dengan bunyi /b/. Dan dalam tulisannya, kata untuk “kaki” itu ditulis secara logografis dengan gambar kaki. Inovasi penulis Mesir adalah: mereka ambil grafem untuk “kaki” itu dan menggunakannya bukan hanya untuk kata “kaki” tetapi untuk semua bunyi /b/. Dan demikian seterusnya untuk bunyi­bunyi lain, sehingga akhirnya ada satu alfabet untuk menandai 26 konsonan.

Sebenarnya alfabet ini digunakan hanya dalam beberapa konteks tertentu, dan tidak menggantikan sistem logografis dan silabis. Misalnya, kalau suatu grafem bisa dibaca dengan beberapa arti (ingatlah contoh dari Sumeria: satu logogram bisa dibaca sebagai mulut, gigi, berbicara, dan pembicaraan), satu grafem alfabetis bisa ditambahkan untuk membantu si pembaca. Kalau yang ditambahkan adalah grafem untuk konsonan /k/, berarti kata yang ditandai oleh logogram adalah yang mulai (atau kadang­kadang berakhir) dengan /k/, bukan yang mulai (atau berakhir) dengan konsonan lain.

Cara lain untuk membantu si pembaca adalah dengan grafem yang disebut “penentu” (Inggris: determinative). (Penentu ini juga dipakai dalam tulisan bahasa Sumeria/Akadia.) Misalnya ada satu kata yang bisa dibaca sebagai ikan dan juga sebagai tangis. Kata itu ditulis, lalu ditambahkan grafem yang menggambarkan ikan, jika yang dimaksudkan adalah ikan, atau ditambahkan grafem yang menggambarkan mata, jika yang dimaksudkan adalah tangis.

Grafem penentu ini tidak dibunyikan si pembaca. Sebagaimana halnya dengan tulisan silabis—yang diciptakan orang Sumeria tetapi lebih dikembangkan oleh orang lain (orang Akadia)— tulisan alfabetis diciptakan orang Mesir tetapi lebih dikembangkan oleh orang lain yang dijajah Mesir. Perkembangan pesat atas dasar alfabetis Perkembangan pesat atas dasar alfabetis dari Mesir terjadi dalam beberapa sistem tulisan yang disebut rumpun tulisan Semitik Utara.

Tulisan Semitik Utara

Tulisan Semitik Timur adalah aksara paku (dipakai untuk bahasa Sumeria, Akadia, Babilonia, dan Assyria). Tulisan Semitik Utara tidak menggunakan aksara paku melainkan mengandalkan alfabet konsonan yang diciptakan orang Mesir. Berbeda dengan tulisan bahasa Mesir, tulisan Semitik Utara tidak mencampurkan tulisan alfabetis dengan tulisan logografis: sistemnya fonografis (berdasarkan bunyi) belaka.

Suatu grafem menandai bunyi saja, tanpa menandai makna sama sekali. Makna suatu kata hanya diketahui kalau semua tanda bunyi digabungkan. Kami ambil contoh dari bahasa Indonesia: dalam istilah kelas, arti kata itu tidak tergantung pada hurufhurufnya tetapi pada susunannya. Artinya baru muncul kalau huruf­huruf itu diletakkan dalam susunan itu. Kalau susunannya berbeda—lekas atau selak—artinya juga lain.

Alfabet Semitik Utara terdiri dari konsonan saja, dan tidak mempunyai cara menandai bunyi vokal.

jadi jika judul itu kalau ditulis dengan konsonan saja, kelihatan begini: Lfbt Smtk Tr trdr dr knsnn sj, dn tdk mmpny cr mnnd bny vkl.

Sistem ini barangkali tepat untuk bahasa­bahasa Semitik, termasuk bahasa Arab, karena dasar atau akar (bahasa Inggris: root) dari setiap kata adalah konsonannya. Kebanyakan kata dalam bahasa Arab mempunyai dasar/akar yang terdiri dari tiga konsonan. Misalnya, k‑t‑b adalah dasar dari sekelompok kata yang berhubungan dengan tulisan:

kitab :buku

katab :menulis

aktib :­saya menulis

katib :penulis

maktub :­tertulis

maktab :kantor

Perbedaan di antara bentuk ­bentuk dasar ktb ini terletak pada bunyi vokalnya. Seseorang yang tahu makna bahasanya biasanya dapat mengetahui melalui konteks (apa yang menjadi topik tulisannya) bentuk mana yang harus dilafalkan. Semua tulisan dalam rumpun Semitik Utara—termasuk tulisan bahasa Aramaik, Phoenicia, Nabthi (Nabataean), dan Arab—ditulis dengan garis mendatar dari kanan ke kiri.

Alfabet Semitik Utara yang paling awal muncul dalam kurun waktu tahun 1700 SM – 1500 SM. Dua tulisan yang paling berpengaruh dalam rumpun tulisan Semitik Utara adalah tulisan bahasa Aramaik dan tulisan bahasa Phoenicia.

Alfabet Aramaik
Alfabet Aramaik
Alfabet Phoenicia.
Alfabet Phoenicia.

Dari Tulisan Bahasa Aramaik ke Tulisan Bahasa Arab

Sebenarnya, tulisan bahasa Aramaik dan tulisan bahasa Phoenicia sangat dekat, dan tulisan Aramaik bisa dianggap turunan dari tulisan Phoenicia. Tetapi dari segi wilayah pengaruh dan perkembangannya, kedua tulisan cukup berbeda.

Tulisan Aramaik muncul pertama kali pada abad ke­9 SM. Antara abad ke­9 SM dan ke­6 SM, bahasa Aramaik (bersama tulisannya) menjadi bahasa administrasi untuk kekaisaran Assyria/Persia, dan dikenal dari Mesir sampai ke India.

Dari tulisan bahasa Nabthi ke tulisan bahasa Arab.
Dari tulisan bahasa Nabthi ke tulisan bahasa Arab.

Perkembangan sejarah aksara Dari tulisan bahasa Nabthi ke tulisan bahasa Arab.

Sekitar tahun 150 SM, beberapa suku Arab nomadis di daerah Sinai, Arabia utara, dan Yordania timur bersatu dan mendirikan suatu kerajaan yang berpusat di Petra. Kerajaan ini disebut Nabthi (Nabataea). Walaupun bahasa sehari­-hari mereka adalah bahasa Arab, mereka juga menggunakan bahasa Aramaik menulis dengan tulisan Aramaik antara abad ke­1 SM – abad ke­3.

Mereka memasukkan beberapa variasi ke dalam tulisan Aramaik, terutama gabungan huruf (seperti lam­alif dalam tulisan bahasa Arab). Dan juga Dan juga bentuk­bentuk huruf khusus kalau hurufnya mengakhiri suatu kata.

Ciri­-ciri tulisan Nabthi ini menjadi unsur khas dalam tulisan bahasa Arab, dan tulisan bahasa Arab dianggap turunan langsung dari tulisan Nabthi. Transformasi tulisan Nabthi menjadi tulisan bahasa Arab terjadi pada abad ke­4 dan abad ke­5.

Alfabet bahasa Arab.
Alfabet bahasa Arab.

Alfabet bahasa Arab menggunakan 28 konsonan—dibanding 22 dalam alfabet Nabthi—tetapi tiga di antaranya (‘alif, wau, dan ya) berfungsi pula sebagai vokal “panjang” (/a/, /u/, /i/). Kebanyakan huruf mempunyai tiga bentuk tertulis, tergantung pada posisi dalam kata: pada awal, tengah, akhir kata.

Semua huruf juga mempunyai bentuk khusus kalau berdiri sendiri. Juga ada tanda­tanda (“diakritik”) di atas atau di bawah huruf untuk menandai bunyi vokal “pendek”, atau untuk menandai penggabungan konsonan (misalnya dalam kata maktub).

Tetapi diakritik ini biasanya dipakai secara sistematis hanya untuk menulis Al­Qur’an dan puisi Arab. Dalam konteks lain, bahasa Arab biasanya ditulis “gundul,” tanpa diakritik untuk vokal pendek atau penggabungan konsonan. Hal ini menyulitkan orang yang ingin membunyikan tulisannya jika belum memahami bahasanya.

Dari Tulisan Bahasa Phoenicia ke Tulisan Bahasa Yunani dan Bahasa Latin

Phoenicia dulu adalah satu daerah di pantai Timur laut Mediterania. Tulisan bahasa Phoenicia muncul kira­kira tahun 1000 SM. Sebagaimana tulisan Aramaik, tulisan Phoenicia termasuk rumpun tulisan Semitik Utara, menggunakan alfabet konsonan dengan 22 huruf. Bahasa Phoenicia ditulis dari kanan ke kiri, seperti bahasa Semitik Utara lain, dan bahasa Arab sekarang.

Alfabet Phoenicia dipinjam orang Yunani

Sekitar tahun 800 SM, alfabet Phoenicia dipinjam orang Yunani lalu dikembangkan. lima huruf konsonan dari alfabet Phoenicia yang tidak diperlukan untuk bahasa Yunani diberi bunyi baru, yaitu bunyi vokal. Dan alfabet Yunani itu menjadi alfabet pertama yang menganggap konsonan dan vokal sebagai huruf setara, tidak menganggap konsonan sebagai yang utama dan vokal sebagai tambahan (diakritik).

Huruf Yunani pada abad ke-7, arah menulis berganti-ganti arah (kanan ke kiri dan kiri ke kanan).
Huruf Yunani pada abad ke-7, arah menulis berganti-ganti arah (kanan ke kiri dan kiri ke kanan).

Pada mulanya, bahasa Yunani ditulis dari kanan ke kiri, seperti bahasa Phoenicia. Sekitar abad ke­7 SM, arah menulis bahasa Yunani bergantiganti arah, dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Namun sekitar abad ke­5 SM, tulisan bahasa Yunani ditulis dari kiri ke kanan. Beberapa huruf yang bentuknya non­simetris (B, E, K, P, dan sebagainya) sebelumnya menghadap ke kiri, lalu sesudah pergantian, arahnya menghadap ke kanan.

Perkembangan bentuk huruf dari tulisan Phoenicia hingga tulisan Yunani yang terlihat dalam gambar dibawah ini. dan gambar berikutnya memperlihatkan bahwa beberapa dari huruf dalam alfabet Phoenicia merupakan transformasi dari grafem Mesir kuno.

Dari huruf Phoenicia ke huruf Yunani
Dari huruf Phoenicia ke huruf Yunani
Dari tulisan bahasa Mesir kuno ke huruf Phoenicia dan kemudian ke huruf Yunani dan Latin.
Dari tulisan bahasa Mesir kuno ke huruf Phoenicia dan kemudian ke huruf Yunani dan Latin.

Alfabet Yunani tetap dipakai sampai sekarang untuk bahasa Yunani. Namun juga ada perkembangan lagi. Pendatang dari daerah Euboea di Yunani yang menetap di daerah Etruria di Itali membawa serta alfabet Yunani. Orang Etruria mengadopsi alfabet Yunani, masih dengan orientasi lama dari kanan ke kiri.

Tulisan dalam bahasa orang Etruria (bahasanya disebut Etruska atau Etruscan) muncul dalam abad ke­7 SM (tahun 700 SM – 600 SM). Kemudian, sekitar tahun 650 SM, orang Roma meminjam sistem tulisan Etruria untuk menulis bahasa latin.

Tulisan bahasa latin berganti arah kanan – ­kiri menjadi kiri – kanan

Sejak saat itu berkembang alfabet latin yang sekarang digunakan untuk banyak bahasa, bukan hanya di Eropa tetapi juga di negara­negara di Asia, Afrika, dan Amerika Utara serta Selatan. Sebagaimana dengan bahasa Yunani sebelumnya, tulisan bahasa latin berganti arah kanan – ­kiri menjadi kiri – kanan, sekitar tahun 100 SM. lihat pada gambar dibawah ini transformasi bentuk dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf latin.

Dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf Latin.
Dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf Latin.

Kesimpulan Sejarah Aksara

Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.

Pengertian Aksara

Aksara dalam KBBI

  • sistem tanda grafis yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran
  • jenis sistem tanda grafis tertentu, misalnya aksara Pallawa, aksara Ink
  • Huruf

Pengertian aksara menurut para ahli

aksara adalah sistem penulisan atau aksara sebagai fasilitas untuk merekam bahasa itu dalam media selain lisan sangatlah penting untuk dilakukan hal ini guna merevitalisasi aksara daerah sehingga generasi mendatang tetap dapat mengenal warisan budaya dari daerahnya. – (Turmudi, 2013)

Penemu tulisan pertama kali

Tidak diketahui siapa penemu aksara (tulisan). yang jelas dalam sejarah adalah Mesopotamia lah yang menemukan aksara, dan itupun masih juga menjadi perdebatan karena aksara dari Mesopotamia tidak ada hubungannya dengan sejarah penciptaan aksara Tionghoa

Mengapa aksara dibeberapa wilayah berbeda-beda?..

dan dari sejarah aksara diatas, kita bisa tahu bahwa, kenapa tulisan/aksara dibeberapa wilayah berbeda-beda?… yaitu karena, aksara pertama kali dibuat masih berupa gambar gambar yang sulit dimengerti, dan walaupun aksara tersebut sulit dimengerti, tetapi aksara tersebut tetap desebar luaskan, yang menyebabkan wilayah wilayah yang merasa aksara tersebut sulit dimengerti dan mempunyai ide baru tentang menciptakan aksara mereka pasti merubahnya, begitupula di tempat asalnya aksara pasti di evolusi.

yaitu karena, aksara pertama kali dibuat masih berupa gambar gambar yang sulit dimengerti, dan walaupun aksara tersebut sulit dimengerti, tetapi aksara tersebut tetap desebar luaskan, yang menyebabkan wilayah wilayah yang merasa aksara tersebut sulit dimengerti dan mempunyai ide baru tentang menciptakan aksara mereka pasti merubahnya, begitupula di tempat asalnya aksara pasti di evolusi.

contohnya macam macam aksara di nusantara (indonesia) ada banyak aksara yaitu aksara jawa, aksara sunda, aksara kalimantan, aksara bali,

dan bukan hanya itu tulisan juga sering di modifikasi contohnya tulisan tegak bersambung


“AKSARA”

Sesuatu yang bersejarah Lainnya :


2 Komentar

Jajang sahroni · Agustus 28, 2019 pada 8:22 am

Nice… sangt2 lengkap, kalo sy saranin min, tulisnnya di tambhkan ke sejarah aksara tionghoa atau sejarah tulisan di nusantara

    Theory Team · Agustus 28, 2019 pada 12:32 am

    Termakasih sarannya sob, artikel tentang sejarah aksara han (tionghoa). akan kami masukkan kedalam list artikel yg akan kami buat.

Tinggalkan Balasan