Jika kita ditanya, Apakah Tuhan Mahakuasa? sontak kita menjawab, Ya benar, Tuhan Maha Kuasa

Tapi bagaimana jika Kemahakuasaan itu bermajas Paradoks? Contohnya Paradoks batu yang akan dibahas ini

Seperti yang kita ketahui bahwa Paradoks selalu membuat orang yang ingin menjawabnya menjadi bingung/dilema seperti perasaan pria saat seorang wanita cantik memperhatikannya 😀

Dan dari sekian banyaknya paradoks yang ada, Paradoks batu atau biasa dikenal OMNIPOTENCE PARADOX yang paling banyak menuai kontroversi, ada yang sampai memperdebatkan, ada yang malas tahu, ada juga yang memikirkan jawabanya sampai dia malas tahu

PARADOKS BATU Apakah Tuhan Mahakuasa
Sumber: HoomanZiya

Apa Itu Paradoks Batu?

Paradoks batu adalah salah satu “Paradoks Ke-mahakuasa-an”, yang paling terkenal diantara yang lainnya, karena permainan Premisnya yang menggelikan otak

Jadi, mengapa paradoks ini penuh drama?, yap.. karena ini menyangkut Kemahakuasaan dan sudah pasti selalu disangkut-pautkan dengan Ke-Tuhanan, seperti yang kita tahu bahwa Tuhan adalah Dzat yang maha kuasa, dan bisa menciptakan apa saja jika Tuhan sudah berkehendak.

Karena yang namanya Paradoks berarti tidak memiliki jawaban dalam artian seperti membenarkan hal yang salah, Cukup ruwet bukan… inilah alasan teka teki ini sering digunakan para Atheis untuk mempermainkan Iman para Agamis.

Seperti apa isi dari teka teki ini bisa dilihat dibawah ini

Isi Paradoks Batu

Isi dari paradoks batu ini hampir sama seperti “Omnipetence Paradox” lainnya. dan bagi yang keliru dengan pembahasan ini sebaiknya hentikan bacaanya saat ini juga. Agar tidak terjadi ke salah pahaman yang lebih lanjut

isinya paradoks batu sebagai berikut :

“Jika Tuhan Mahakuasa, bisakah Tuhan menciptakan batu yang sangat berat, sehingga Tuhan tidak bisa mengangkatnya”

Sepintas jawabanya hanya memilih antara bisa atau tidak, tapi jika dipikir-pikir lagi, ini sedang terjadi sebuah kontradiksi tetang kebenaran yang telah ditetapkan.

Premis Paradoks Batu

Dari isi paradoks batu diatas maka akan muncul premis seperti ini:

  • Jika berpendapat Tuhan bisa, berarti tuhan tidak maha kuasa karena tidak bisa mengangkat batu tersebut,
  • jika berpendapat Tuhan tidak bisa, berarti Tuhan tidak maha kuasa.

Selalu berputar putar, antara Tuhan bisa mengangkatnya dan Tuhan tidak bisa mengangkat batu tersebut. Serba salah, apapun jawabannya?

Di beberapa forum yang membahas ini, rata-rata jawabanya simpel saja “ah… ini hanya pernyataan Konyol, tidak perlu di jawab”. tetapi bagi sebagian orang, khusunya yang suka teka teki akan menganggap ini adalah hal yang wajib untuk dijawab.

bahkan bisa membuatnya sulit untuk tidur jika belum menemukan solusinya

GAMBAR-1-OMNIPOTENCE-PARADOX-THOERY-ID
Omnipotence Paradox

Menjawab Paradoks Batu

Untuk menjawab sebuah pertanyaan logika seperti biasa lihatlah dari berbagai sudut pandang, seperti kata pepatah “ubah cara pandangmu maka hidupmu akan berubah”.

Terkadang sebuah kalimat yang di tulis dengan benar, belum tentu maksud dari kalimat itu masuk akal dan biasanya kalimat yang tak masuk akal selalu berhubungan dengan ke-Tuhanan.

Pemaparan ini akan menjawab dengan perlahan, oleh karena itu jangan dulu menganggap ini hal yang keliru, Cobalah dimulai dari pertanyaan sederhana.

Membuat Pertanyaan Lain

Dengan membuat pertanyaan lain yang lebih mudah untuk dijawab maka itu akan mengarahkan kita untuk menemukan dimana letak kekeliruannya.

Contoh, perhatikan kalimat bergaris bawah pada paradoks ini

jika Tuhan maha kuasa, bisakah Tuhan menciptakan batu yang sangat berat, sehingga Tuhan tidak bisa mengangkatnya.

Sebenarnya, dari paradoks ini kita bisa membuat 2 pertanyaan, tetapi karena pertanyaan yang pertama “jika Tuhan maha kuasa, Bisakan Tuhan menciptakan batu yang sangat berat?” jawabanya mudah saja yaitu “bisa”.

maka pertanyaan yang kedua (kalimat bergaris bawah) akan dipaparkan agak panjang disini

Dari kalimat yang bergaris bawah itu, cobalah buat sebuah pertanyaan, seperti:

Seberat apakah batu itu sehingga Tuhan tidak bisa mengangkatnya?

Maka…

Jawaban yang tepat adalah “Batu itu tidak ada”

Simpelnya seperti ini:

Kekuatan Tuhan tak bisa diukur pakai rumus fisika, karena tak terbatas/tak terhingga, dan bahkan tak terhitung.

dan… satu-satunya benda yang beratnya tak terbatas atau tak terhingga atau tak terhitung adalah benda itu “tidak ada”.

BLANK-THEORY-ID

Membuat Paradoks Lain

Ketika menjawab pertanyaan tadi, tentu saja itu belum menjawab paradoksnya, melainkan akan timbul paradoks lain jika pertanyaan itu dihubungkan dengan isi paradoknya.

Contoh:

Bisakah Tuhan Menciptakan, “benda yang Tuhan tidak bisa mengangkatnya

Diubah menjadi :

Bisakah Tuhan menciptakan, “Tidak Ada

disini kita sudah menemukan inti dari paradoks ini berbunyi : “Bisakah Tuhan Menciptakan sesuatu yang tidak ada?”

paradoks yang baru saja dihasilkan ini juga agak rumit, mengingat bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Kuasa. tetapi jika pertanyaanya sudah seperti ini, maka sudah bisa dijawab menggunakan KBBI.

Di KBBI tertulis bahwa kata menciptakan berarti meng-ada-kan/mewujudkan sesuatu

Untuk jawaban akhir dari Omnipotence Paradox (Paradoks Batu) kalian bisa menyimpulkan sendiri, seperti menganggapnya sebagai “pernyataan yang keliru.”

*Menciptakan “tidak ada” adalah hal yang keliru


THE PARADOX OF THE STONE SOLVED

Ibnu Rusyd | Pencipta Omnipotence Paradox

Pertanyaan Tentang Omnipotence Paradox & Paradoks batu

Apa itu Omnipetence?

Kata Omnipotence berasal dari kata bahasa latin yaitu omne artinya segalaya/ semaunya dan potence artinya kuasa. Sehingga Omnipotence / Omnipotent dapat diartikan sebagai maha kuasa

Siapa Pencipta Omnipotence Paradox?

Asal muasal atau pencipta omnipotence paradox ini adalah Ibnu Rusyd sejak abad ke-12, kemudian oleh Thomas Aquinas.
dan kemudian pertanyaan logika ini banyak dikemukakan oleh orang – orang Atheis (tidak ber-Agama).

Contoh Omnipotence Paradox

Ada contoh omnipotence paradox lainnya misalnya “apakah Tuhan bisa menolak dirinya sendiri?..” jawabannya sama saja seperti paradoks ke-Tuhanan lainnya. yaitu bahwa “kalimatnya yang tidak masuk akal” karena yang dibahas adalah TUHAN.

Dari mana Pemikiran Omnipotece Paradox Berasal

JIka Diperhatikan, Semua Paradoks tentang Kemahakuasaan Tuhan selalu berkaitan dengan sifat – sifat yang ada pada Tuhan, Lalu dari sifat – sifat itu dicari kebalikannya, dan ditambahkan dengan kata bisakah.

contoh dibawah ini

Tuhan Maha adil
Tuhan Maha baik
Tuhan Maha melihat
Tuhan Maha mendengar
Dll

Yang kemudian diubah menjadi:

Bisakah Tuhan tidak adil
Bisakah Tuhan Berbuat jahat
Dll

Semua itu kembali lagi pada diri kita, Bukan tidak bisa, tapi Tuhan tidak Akan melakukan itu, karena itu adalah sifat yang mustahil ada pada Tuhan. Jadi sudah Pasti jawaban dari Paradoks tentang Tuhan adalah kalimatnya tidak masuk akal. karena yang dibahas adalah Tuhan.

St Thomas Aquinas Paradoks batu
St Thomas Aquinas Paradoks batu

Kesimpulan

Dari paradoks batu ini Aquinas ingin membuktikan bahwa Allah itu tidak ada. Menurut pemahaman Aquinas tentang kemahakuasaan, memang benar bahwa Tuhan mampu melakukan apa pun yang mungkin,

Tetapi dia keliru tentang batu yang sangat berat hingga Allah tidak bisa mengangkatnya, sebenarnya adalah hal yang mustahil ada (Tidak ada).

Gegara Paradoks batu, saat itu banyak yang mempertanyakan Tuhan ada atau tidak, hingga beberapa tahun akhirnya, paradoks ini bisa diselesaikan; Aquinas gagal menunjukkan bahwa ada ketidakkonsistenan dalam konsepsi teistik tentang Tuhan, dan karena itu juga ia gagal menunjukkan bahwa Allah tidak ada.

Semoga bermanfaat Theory kali ini, seperti biasa, terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan jejak apapun itu dengan berkomentar

Lihat Pula

Referensi

  • AverroësTahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence) trans. Simon Van Den Bergh, Luzac & Company 1969, sections 529–536
  • Aquinas, Thomas Summa Theologica Book 1 Question 25 article 3
  • Savage, C. Wade. “The Paradox of the Stone” Philosophical Review, Vol. 76, No. 1 (Jan., 1967), pp. 74–79 doi:10.2307/2182966
  • Hoffman, Joshua, Rosenkrantz, Gary. “Omnipotence”The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2002 Edition). Edward N. Zalta (ed.). (Accessed on 19 April 2006)

6 Komentar

Dwi · Maret 21, 2019 pada 5:23 am

Terimakasih theory.id atas penjelasannya yang begitu sederhana…
setelah membaca artikel ini saya jadi bisa menjabarkan theori ini melalui cara lain…

    Theory Team · Maret 21, 2019 pada 6:09 am

    Terimakasih atas responnya

Alfian · Agustus 25, 2019 pada 3:37 pm

Saya lebih mengerti tentang omnipotence paradox disini, bahkan dibandingkan dgn di wikipedia

    Theory Team · Agustus 25, 2019 pada 4:00 pm

    Trmkasih ats kunjungannya, semoga bermanfaat

    Aditya cahya ramdani · Agustus 26, 2019 pada 12:18 am

    Setuju

      Theory Team · Februari 2, 2020 pada 6:39 am

      Thank’s

Tinggalkan Balasan