Fondasionalisme – Ibaratnya rumah yang mempunyai pondasi yang kuat untuk menopan beban rumah, begitu juga dalam sebuah pembenaran, tidak hanya kebenaran itu di utarakan oleh orang orang hebat tapi juga harus memilki sumber atau pembuktian yang jelas.

Fondasi yang dimaksud oleh para penganut teori pembenaran ini biasanya berbentuk intuisi akal budi atau persepsi indrawi.

Pengertian fondasionalisme

Pembenaran dari paham Fondasionalisme

Fondasionalisme adalah teori pembenaran yang didasarkan pada anggapan dasar bahwa, klaim kebenaran terhadap sesuatu perlu didasarkan pada fondasi atau basis yang kokoh, dan jelas dengan sendirinya sehingga tidak membutuhkan koreksi lebih lanjut.

Ungkapan seperti: “menurut pendapat saya”, “menurut penglihatan saya”, “perasaan saya mengatakan…..” adalah pernyataan pernyataan pembenaran yang berasal dari paham fondasionalisme ini.

Dua macam kepercayaan dalam teori fondasionalisme

Secara umum para penganut teori fondasionalime mebedakan dua macam “kepercayaan” dalam pembenaran yaitu, Kepercayaan dasar dan Kepercayaan Simpulan.

Kepercayaan dasar adalah kepercayaan yang sudah jelas dengan sendirinya, sehingga dapat digunakan sebagai fondasi bagi kepercayaan lain yang bersifat simpulan.

FONDASIONALISME dalam teori teori kebenaran
Sumber : salihara.org

FONDASIONALISME dalam proyek pembenaran

Secara historis dikaitkan dengan dua doktrin:

  • Beberapa proposisi (dan/atau keyakinan, kalimat, dll.) bersifat dasar dalam pengertian bahwa mereka benar- benar pasti dan jelas dengan sendirinya. Mereka pasti karena mereka tanpa bisa disangkal lagi adalah benar Mereka jelas dengan sendirinya karena mereka tidak membutuhkan bukti. Kebenarannya sudah jelas: orang hanya perlu membayangkan proposisi dasar seperti itu dan kebenaran mereka akan menjadi terang. (Contoh paling terkenal dari proposisi yang jelas dengan sendiri- nya adalah ‘saya sedang berpikir. Hanya dengan berpikir tentang proposisi ini, betapapun singkatnya, orang men- jadikannya benar. Juga selama ini diklaim bahwa propo- sisi yang menggambarkan sensasi fisik seseorang sendiri adalah benar apabila hal itu diyakini sungguh. Misalnya, “Saya merasakan sakit di lutut saya,)
  • Proposisi lainnya tidak bersifat dasar. Mereka memerlu- kan pembenaran. Secara khusus, mereka harus disimpul- kan dari proposisi dasar.

Jadi metafora baku yang digunakan oleh kaum fondasionalis untuk menggambarkan struktur sebuah himpunan keyakinan yang bisa dibenarkan adalah struktur sebuah piramida: persis sebagaimana topangan dalam sebuah piramida terarah ke atas melalui lapisan bsertingkat bebatuan demikian juga arah pembenaran tertuju ke atas melalui lapisan bertingkat proposisi-proposisi.

Sejak pertengahan abad ini, kaum fondasionalis Adah jauh berkurang antusiasmenya kepada doktrin 1. Mereka dewasa ini lebih cenderung untuk mengatakan (dengan peristilahan vang sangat beragam) bahwa sementara proposisi dasar memiliki probabilitas (kelayakan atau status epeis temik positif) intrinsik, probabilitas ini mungkin tidak 100 persen.

Proposisi dasar bersifat tidak pasti. Mereka tidak bersalah sampai terbukti bersalah, tetapi mereka bisa dibuktikan bersalah. Artinya, untuk setiap proposisi dasar tertentu, orang bisa, dalam situasi yang tepat, sampai pada pandangan bahwa probabilitas intrinsiknya menyesatkan dan menyimpulkan bahwa ia adalah salah. (Lihat, misalnya, Reichenbach 1952.) Yang terutama jika sebuah proposisi dasar sangat tidak sejalan dengan banyak proposisi bukan-dasar yang bisa dibenarkan dengan baik (melalui hubungan mereka dengan proposisi dasar lainnva), maka ia tidak bisa dibenarkan. Karena itu menurut teori-teori fondasional yang terkini, pembenaran sampai batas tertentu mengarah ke bawah dari proposisi bukan- dasar menuju ke proposisi dasar. Ini, tentu saja, melemahkan kelayakan metafora piramida.

Sehabungan dengan doktrin 2, kaum fondasionalis kontemporer juga lebih cenderung untuk berpendapat bahwa kesimpulan dari proposisi dasar menuju proposisi bukan- dasar bisa bersifat induktif, bukannya deduktif. (Deduksi diharuskan oleh Aristoteles, setidaknya di dalam Posterior Analytics, dan bisa díbilang diharuskan oleh Descartes ICornman 1979, 131]).

Yang berikut ini merupakan semacam teori pembenaran fondasional sederhana:

Kebenaran berkorelasi secara positif dengan entah itu keadaan yang menjadi jelas dengan sendirinya atau disimpulkan dari Proposisi-proposisi vang jelas dengan sendirinya, dan adalah relatif mudah untuk menentukan kapan sebuah proposisi (kalimat, atau keyakinan, dll) memiliki karakteristik ini.

Tentu saja, sebuah teori fondasional vang baik harus memenuhi perincian tertentu, dan kebanyakannya memang demikian.

Ada tiga bagian yang terdapat dalam sebuah teori fondasional yang lebih lengkap.

  • Pertama, ia mengidentifikasi himpunan proposisi yang hendak kita pandang sebagai bersifat fondasional atau dasar. Dalam sejarahnya, calon yang paling menonjol selama ini adalah laporan rasa atau sensasi (mis, Saya merasa sakit), laporan pengalaman inderawi (mis Sepertinya saya melihat sebuah mesin ketik biru di sini’) penegasan analitis, dan/atau klaim Cartesian “Saya berpikir”.
  • Kedua, ia juga mendefinisikan jenis pembuktian dengan sendirinya seperti apa (probabilitas intrinsik, pembenaran yang bukan inferensial, atau apa pun) yang dimiliki oleh proposisi fondasional.
  • Ketiga, ia menjelaskan bagaimana proposisi bukan-dasar dibenarkan relatif terhadap proposisi dasar. Karena proses ini biasanya dianggap sebagai inferensial (penyimpulan), bagian kedua dari sebuah teori fondasional biasanya merupakan teori deduksi atau induksi atau keduanya.
FONDASIONALISME dalam teori teori kebenaran
(Rene Descartes) Sumber : upload.wikimedia.org

Teori-teori fondasional pada umumnya memiliki cukup banyak kelayakan awal dalam pandangan teori kebenaran Realis, karena mereka tampak mengharuskan kita untuk langsung menangkap keadaan di dunia yang berada di luar pikiran kita. Mereka juga memiliki kelayakan tertentu dalam pandangan teori-teori kebenaran lainnya. Memang kelihatan bahwa proposisi yang jelas dengan sendirinya, dan propos yang tersimpulkan demikian, cenderung untuk koheren satu dengan lainnya. Dan karena proposisi seperti itu tampak mengungkapkan apa faktanya, mereka juga tampak lebih cenderung berguna dan akhirnya disetujui oleh semua orang dengan pengalaman relevan yang memadai.

Memahami teori fondasionalisme

Read N thing – Egilaka

Teori pembenaran tradisional memandang bahwa keyakinan dapat dibenarkan jika kita mempunyai alasan bagus bahwa itu benar, pernyataan ini mengandung arti bahwa pernyataan pertama menjadi benar apabila didukung oleh pernyataan – pernyataan

berikut misalnya:

pernyataan B membenarkan pernyataan A pernyataan C membenarkan Pernyataan B serta , pernyataan D membenarkan pernyataan C dan sebagainya. Sebagai contoh saya mengatakan bahwa besok hari libur, dari mana anda yakin bahwa pernyataan besok libur adalah benar? Saya yakin besok libur umum (A) karena di kalender ada tanggal merahnya, kalau tanggal merah artinya libur umum (B) Besok adalah hari raya keagamaan (C), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan A dibenarkan pernyataan B dan pernyataan B dibenarkan Pernyataan C dan seterusnya.

Anggapan bahwa keyakinan A (sebagian) dibenarkan B, dibenarkan oleh keyakinan C, dibenarkan oleh keyakinan D, dan dibenarkan…. tak terbatas atau Rantai keyakinan seperti ini bagaimanapun akan menimbulkan masalah, misalnya saya harus menelusuri dan meneliti lebih lanjut semua rantai pernyataan ini untuk dapat meyakini bahwa suatu pernyataan ini adalah benar.

Kesimpulannya :

Oleh karena itulah maka Fondasionalisme hadir untuk memberikan solusi, hakikat Fondasionalisme itu sendiri adalah Fondasi dapat saya katakana bahwa suatu kebenaran harus memiliki fondasi yang kuat, untuk menopang kebenaran. Ibarat rumah maka fonsadinya harus kuat sehingga tidak gampang roboh dihantam badai. Dalam hal Fondasionalisme suatu hal yang sudah diyakini kebenarannya harus dapat diterima, sering dikenal dengan Basic Believe atau basis kepercayaan. Ada tiga hal penting yang menjadi basis kepercayaan yang menjadi fondasi yang kuat untuk menopang suatu kebenaran yaitu :

  • infallible (sempurna/tidak mungkin salah)
  • incorrigible (tidak dapat diperbaiki) dan
  • indubitable (tidak dapat diragukan)

FONDASIONALISME

Post Lainnya :



0 Komentar

Tinggalkan Balasan