Sponsored
Categories: Biografi

Biografi D.N. Aidit : Marxisme dan Revolusi indonesia

Sponsored
NamaD.N. Aidit
LahirTanjung Pandan, 30 Juli 1923
PekerjaanPolitikus
Dikenal karena Ketua Partai Komunis Indonesia

Biografi D.N. Aidit:

Dipa Nusantara Aidit, atau lebih dikenal dengan D.N. Aidit adalah Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI).

Aidit adalah salah satu tokoh penting di Indonesia

Tapi, kisah hidupnya jarang diceritakan dalam forum resmi maupun institusi pendidikan.

Bagaimana tidak, Keterlibatan Aidit dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) itulah yang membuat namanya menjadi terkesan menyeramkan untuk dibicarakan.

Kelahiran

D.N. Aidit atau dulunya akrab dipanggil “Amat”, Lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923. Ia dipanggil Amat karena nama kelahirannya adalah Achmad Aidit.

Sedangkan Dipa Nusantara (D.N.) adalah nama yang ia buat sendiri ketika dewasa.

D.N. Aidit adalah anak tertua dari delapan bersaudara, keturunan Melayu pada sebuah kampung di Pagarlarang, Tanjungpandang, Pulau Belitung, Hindia Belanda.

Ayahnya bernama Abdullah Aidit. Abdullah adalah seorang yang bekerja sebagai pejabat dinas kehutanan di Belitung, jabatan yang cukup bergengsi ketika itu.

Masa Muda

Sumber : Suratkabar.id

“ Saya ingin ke Batavia,” kata Achmad Aidit kepada bapaknya, Abdullah.

Waktu itu 1936. Achmad berumur 13 tahun, baru lulus Hollandsch Inlandsche School, setingkat sekolah dasar masa itu. Di Belitung, tempat tinggal keluarga Aidit, sekolah“ sangat besar” memanglah cuma itu.

Umtuk masuk sekolah menengah atau biasa dikenal dengan nama Meer Uitgebreid Lager Onderwijs( MULO) pemuda- pemuda pulau itu wajib merantau ke Medan ataupun Jakarta.

Merantau ke tanah Jawa

Meninggalkan Belitung bukan pilihan yang umum pada masa itu. Pemuda yang merantau hingga tanah Jawa dapat dihitung dengan jari. Tetapi Aidit dapat meyakinkan bapaknya.

“ Abang aku sangat tidak sering memohon suatu kepada Ayah,” kata Murad Aidit, adik kandung Achmad.

Jika telah hingga memohon suatu, kata Murad, itu maksudnya tekad Aidit telah betul- betul bundar.

Adik Aidit yang lain, Sobron, dalam bukunya Aidit: Abang, Teman, serta Guru di Masa Pergolakan, menerangkan kalau buat diizinkan merantau, seseorang anak muda wajib penuhi 4 ketentuan: dapat memasak sendiri, dapat cuci baju sendiri, telah disunat, serta telah khatam mengaji. Keempat ketentuan itu telah dipenuhi Aidit.

Setibanya di Batavia, Achmad Aidit ditampung di rumah kawan bapaknya, Marto, seseorang mantri polisi, di kawasan Cempaka Putih.

Sayangnya, registrasi MULO telah ditutup kala Aidit datang di Jakarta. Ia harus menerima bersekolah di Middestand Handel School( MHS), suatu sekolah dagang di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Menempuh Pendidikan

Bakat kepemimpinan Aidit serta idealismenya yang berkobar- kobar langsung menonjol di antara kawan sebayanya.

Di sekolahnya yang baru, Aidit mengorganisasi kawannya melaksanakan bolos massal guna mengantar jenazah pejuang kemerdekaan Muhammad Husni Thamrin, yang kala itu hendak dimakamkan.

Sebab sangat aktif di luar sekolah, Aidit tidak sempat menuntaskan pembelajaran formalnya di MHS.

Bersama Adiknya Murad

3 tahun di Cempaka Putih, Aidit pindah ke suatu rumah di Tanah Besar 48, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Kala indekos di mari, Murad tiba menyusul dari Belitung, pula buat bersekolah di Jakarta.

Menyekolahkan 2 anak jauh dari rumah pasti tidak gampang buat keuangan Abdullah Aidit. Gajinya sebagai mantri kehutanan cuma 60 gulden sebulan. Dari jumlah itu, 15- 25 gulden dikirimnya ke Batavia. Pasti saja jumlah itu pula pas- pasan buat 2 bersaudara Aidit.

Terlebih kala masa pendudukan Jepang datang, pada 1942. Ikatan komunikasi antara Jakarta serta kota sekitarnya terputus total. Dikala itu, dari rumah tumpangannya di Tanah Besar, Aidit melihat ribuan orang berduyun- duyun menjarah gudang- gudang perkapalan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Dari pagi hingga sore, aneka tipe benda diangkut massa ke Pasar Senen, mulai dari ban mobil, mesin ketik, hingga gulungan kain bahan pakaian.

Masa Susah Aidit

Kiriman uang dari Belitung tersendat. Buat bertahan hidup, Achmad serta Murad mau tidak mau mereka harus bekerja. Aidit kemudian membuat biro pemasaran iklan serta langganan pesan berita bernama Antara.

Lama- kelamaan, tidak hanya biro iklan, Antara pula berjualan novel serta majalah. Tatkala abangnya padat jadwal melayani pelanggan, Murad umumnya berjualan pin serta lencana bergambar wajah pahlawan seperti Kartini, Dokter Soetomo, serta Diponegoro, di dekatnya.

Berdagang memanglah bukan pekerjaan baru buat Aidit. Kala masih tinggal di Belitung, tiap kali terdapat pertandingan sepak bola di Kampung Parit, Aidit senantiasa berjualan kerupuk serta nanas. untuk ditabung, Sobron berkisah dalam bukunya.

Tidak puas dengan pertumbuhan usahanya, Aidit setelah itu mengajak seseorang kawan yang tinggal satu indekos dengannya, Mochtar, untuk berkerja sama. Mochtar ini seseorang penjahit yang memiliki toko cukup besar di Pasar Baru.

Sebab posisi usahanya yang strategis, toko Mochtar segera menjadi tempat mangkal para aktivis masa itu, seperti Adam Malik serta Chaerul Saleh. Otomatis, jaringan kedekatan Aidit meluas.

Kala Mochtar menikah serta menyewa rumah sendiri di kawasan Kramat Pulo, Aidit serta Murad turut pindah ke situ. Keadaan ini menguntungkan Aidit, sebab Mochtar kerap membiarkan kakak- beradik itu tidak membayar sewa.

“ Gunakan saja buat keperluan lain,” katanya seperti ditirukan Murad.

Tetapi, jika Mochtar lagi perlu uang, setoran uang sewa Murad akan dimasukkan ke kantong. Biasanya, jika begitu, Aidit akan menggerutu. Kamu sih, selalu menyodor- nyodorkan uangnya, makanya dia terima,” katanya memarahi Murad.

Tetapi suasana ekonomi yang terus memburuk membuat Aidit kesimpulannya angkat tangan. Murad diminta tinggal di suatu asrama korban perang, saat sebelum dikirim kembali ke Belitung.

Awal Karir Pilitik

Sumber : Suara.com

Suasana politik Ibu Kota yang gegap- gempita telah menarik minat Aidit sejak awal. Ia pertama- tama bergabung dengan Persatuan Timur Muda alias Pertimu.

Pekumpulan ini dimotori Gerakan Rakyat Indonesia( Gerindo), di bawah pimpinan Amir Syariffudin serta Dr Ahmad Kapau Gani. Dalam organisasi inilah persinggungan Aidit dengan politik kian menggila.

Cuma dalam waktu singkat, Aidit dinaikan sebagai Pimpinan Universal Pertimu.

Di balik karier politiknya yang mulai menjulang, Aidit semacam berupaya mengibaskan bayangbayang keluarga serta masa lalunya di Belitung. Kala Murad berulang kali memohon bantuan finansial, misalnya, Aidit senantiasa menolak.

Sesuatu kali Aidit bahkan berujar kalau“ persamaan di antara mereka hanyalah aspek kebetulan, sebab dilahirkan dari ibu serta ayah yang sama. selebihnya, tidak terdapat ikatan apa juga di antara kita,” katanya.

Merubah nama menjadi D.N. Aidit

Di masa- masa seperti itu Achmad Aidit memutuskan berganti nama. Ia memilah mengenakan nama Dipa Nusantara biasa disingkat DN. Menurut adik- adiknya, pergantian nama itu lebih dipicu perhitungan politik Aidit.

“ Ia mulai membaca efek,” kata Murad.

Semenjak namanya berganti itu memang tidak banyak orang yang ketahui asal- usul Aidit. Ia kerap disebut- sebut berdarah Minangkabau, serta DN di depan namanya merupakan singkatan Djafar Nawawi.

Proses pergantian nama itu pula tidak gampang. Abdullah, bapak Aidit, tidak dapat dengan lekas menerima gagasan anaknya.

Di depan anak- anaknya, Abdullah mengaku tidak dapat menerima rencana pergantian nama itu sebab nama Achmad Aidit telah kadung tercetak di slip gajinya selaku putra sulung keluarga itu.

Akan timbul banyak perkara bila nama itu tiba- tiba sirna dari catatan keluarga.

Abdullah serta Aidit bersurat- suratan beberapa kali, saat sebelum kesimpulannya Abdullah menyerah. Bapak serta anak itu setuju, nama D. N. Aidit baru akan dipakai bila telah terdapat pengesahan dari notaris serta kantor Burgelijske Stand ataupun catatan sipil.

Menjadi Ketua PKI

Sumber : Merdeka.com

Awal mula karir Politik Aidit ialah pada saat dia masuk sekolah Handelsschool.

Dia belajar teori politik Marxis lewat Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda( yang akhir- akhir ini berubah nama menjadi PKI).

Dalam kegiatan politiknya itu pula dia mulai berkenalan dengan orang- orang yang nantinya memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, yakni Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, serta Mohammad Yamin.

Walaupun dia seseorang Marxis serta anggota Komunis Internasional( Komintern), Aidit menampilkan support terhadap paham Marhaenisme Sukarno serta membiarkan partainya tumbuh tanpa menunjukkan kemauan untuk merebut kekuasaan.

Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, dia sukses jadi Sekjen PKI, serta belakangan menjadi Pimpinan.

Peristiwa G30S PKI

Sumber : Okezone

Dibawah pimpinan Aidit Partai Komunis Indonesia Terus menjadi besar, sehingga pada 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia.

PKI menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan.

Partai Komunis Indonesia pada era kemerdekaan lebih menitik beratkan pada tujuan menegakkan pandangan hidup komunis sebagai dasar negeri.

Akan tetapi, rencana ini terhalang sebab negeri telah menentukan ideologi Pancasila lewat persidangan BPUPKI.

Pada masa Demokrasi Terpimpin, yang diawali semenjak Dekrit Presiden 1959, keadaan politik didominasi oleh presiden Sukarno. Saaat itu presiden Sukarno menyusun dojtrib Nasakom( Nasionalisme Agama Komunisme) guna mengggambarkan 3 kekuatan besar di Indonesia dikala itu, ialah Nasionalis( ABRI dan Partai Nasional Indonesia), agama( partai keagamaan seperti Masjumi) serta Komunis( PKI).

Sesudah dibubarkannya Masjumi pada 1960 setelah diprediksi ikut serta pemberontakan PRRI di Sumatra, ABRI jadi saingan terberat PKI dalam politik Indonesia.

Diantara angkatan di ABRI, Angkatan Darat ialah angkatan yang sangat menentang PKI. Tokoh Angkatan Darat yakni Jenderal AH Nasution serta Ahmad Yani diketahui selaku orang yang tidak suka terhadap PKI.

Angkatan Darat pula yang menentang pembentukang“ Angkatan Kelima” yang terdiri dari buruh serta petani yang dipersenjatai.

Sebab penentangan dari Angkatan Darat ini hingga PKI menyebarkan isu adanya“ Dewan Jenderal” yang diucap ingin merebut kekuasaan dari Presiden Sukarno.

Dengan isu ini PKI, lewat Kepala Biro Khusus Sjam Kamaruzzaman, bekerja sama dengan oknum dari Cakrabirawa serta menyusun rencana buat menculik para jenderal ini.

sehingga pada bertepatan pada 30 September 1965 terjadilah kejadian nasional yang diawali di Jakarta dengan diculik serta dibunuhnya 6 orang jenderal dan seorang perwira.

Kejadian ini pun Dikenal sebagai“ PERISTIWA G30S PKI”

Aidit Wafat

Sumber : Okezone

Sesudah Peristiwa itu, Aidit menghilang serta seusai pelarian panjang pada Bertepatan pada 22 November 1965, Dipa Nusantara Aidit ditangkap di tempat persembunyiannya di rumah Kasim alias Harjomartono di Kampung Sambeng, Solo, Jawa Tengah.

Pada hari penangkapannya itu, Aidit pernah menikmati kopi serta rokok. Malahan, dikala hendak dibawa, Aidit pernah meminta rokok.

“ Boleh ya rokok ini aku bawa,” kata Aidit.

Kemudian, seseorang tentara yang menangkapnya menanggapi.

“ Bawa saja rokok itu. Nanti buat rokok- an bersama Gatot Subroto,” katanya menyiratkan kalau Aidit bakal segera menyusul Jenderal Gatot Subroto yang sudah wafat pada tahun 1962.

Pasca penangkapan, Aidit dibawa ke Loji Gandrung. Di situ, seorang tentara berpangkat mayor pernah berupaya mengambil alih penangkapan Aidit. Tetapi, upaya itu ditolak oleh Komandan Brigade Mayjen Yasir Hadibroto.

Cocok dengan perintah Jenderal Soeharto, Yasir setelah itu memerintahkan anak buahnya, Mayor ST untuk mencari sumur tua tidak berair.

Sadar ajal semakin mendekat, Aidit setelah itu meminta waktu untuk berpidato.

“ Jangan tergesa- gesa, aku ingin pidato dulu,” kata Aidit.

Pidato Aidit kali ini berapi- api serta diakhir pidatonya, Aidit kemudian berteriak“ Hidup PKI!”

Seruan itu menjadi seruan Aidit yang terakhir, karena sejurus setelah itu, peluru langsung menyusup ke balik daging- dagingnya.

Sesudah roboh dihantam timah panas, jasad Aidit setelah itu dimasukkan ke sumur tua, persis seperti nasib pahwalan revolusi yang gugur dimasukkan ke sumur Lubang Buaya.

Di atas jasad Aidit, para tentara menimbun beberapa batang pisang, kayu- kayu kering, tanah, kemudian membakarnya untuk melenyapkan jejak Aidit.

Lihat Pula

Referensi

Note:

Theory.id hanya menggunakan sumber terpercaya, termasuk buku – buku oleh penulis yang berpengalaman, baca lebih lanjut.
Bagi yang sedang membuat makalah tentang G30s PKI, dan mengambil beberapa dari tulisan ini.
Silahkan Copy dan Paste tulisan yang ada di “Referensi” kedalam “Daftar Pustaka”.
+73
0
Sponsored
Theory Team

Tak ada batasan untuk berpikir

View Comments

This website uses cookies.